DARI ISLAM UNTUK PEREMPUAN; MELANJUTKAN SEMANGAT JUANG KARTINI


(Oleh : Ijtahadafillah)


Karawang (2020) – Masih ada sebagian orang di luar sana menganggap perempuan adalah makhluk yang lemah, punya keterbatasan, dan lebih rendah kedudukannya daripada laki-laki. Stigma tersebut masih mengakar kuat di masyarakat, inilah kurang lebih gambaran patriarki. Dimana hal tersebut menumbuhkan mindset pada diri perempuan untuk bergantung hidup hanya pada laki-laki, tidak mau mengembangkan diri dan memiliki mimpi. Ini menjadi suatu pola pikir yang perlu diluruskan, agar tidak muncul diskriminasi gender yang merugikan baik bagi laki-laki maupun perempuan. Bahkan dari pola pikir tersebut, agama dalam hal ini islam kerap menjadi kambing hitam yang disoroti atas kedudukan wanita di dalamnya.
Di dalam islam manusia diciptakan oleh Allah untuk menjadi khalifah (pemimpin) yang mampu memakmurkan bumi, sebagaimana isi surah Al-Baqarah ayat 30. Kata “Khalifah” tersebut merujuk kepada manusia, dan manusia di dunia ini hanya ada dua jenis yaitu laki-laki dan perempuan. Untuk menjadi seorang pemimpin, Allah telah memberikan kemampuan berupa potensi akal, hati dan fisik yang sempurna kepada manusia. Tinggal manusia itu sendiri yang memilih untuk menggunakannya dengan maksimal atau dibiarkan sia-sia. Dalam hubungannya dengan Perempuan tentu ini adalah suatu landasan yang kuat bagi perempuan untuk mau menggali potensi dirinya. Sehingga potensi tersebut dapat memberi kontribusi positif baik untuk dirinya maupun untuk lingkungan secara luas.
R.A Kartini adalah salah satu contoh sosok perempuan inspiratif Indonesia yang mendobrak diskriminasi gender kaumnya pada masa lalu. Ia dikenal berani dan cerdas. Namun Ia tidak ingin menikmati kecerdasan itu sendiri, maka dari itu ia beritikad dalam memajukan dan memperbaiki martabat perempuan melalui pendidikan. Melalui pendidikanlah perempuan mampu menggali potensi dirinya dan berkarya sesuai passion yang dimilikinya.
Menjadi Kartini Masa Kini bukanlah lagi berjuang menuntut kesetaraan gender. Bahkan sebelum Kartini memperjuangkan emansipasi. Islam telah lebih dulu memperjuangkan perempuan atas hak-haknya, seperti hak hidup, hak waris dalam keluarga, hak untuk menuntut ilmu, hak menikah dengan pria pilihannya, dan hak lainnya. Maka, sebenarnya perempuan sudah merdeka sejak islam muncul dan tidak perlu dipermasalahkan lagi. Islam tidak pernah menjadikan posisi perempuan rendah hanya karena laki-laki menjadi pemimpin dalam keluarga, itu hanya perbedaan peran dan tugas masing-masing sesuai kodratnya, bukan perbedaan hak secara sosial. Islam juga memberikan hak kepada perempuan dalam pendidikan sebagaimana dalam suatu hadits dikatakan “menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim (laki-laki dan perempuan)”. Allah menganggap semua manusia di hadapan-Nya sama, yang membedakan hanyalah ketaqwaannya. Seperti kutipan di dalam Qur’an surah Al-Hujurat ayat 13.
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan, menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling beratqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
Perempuan hari ini adalah Kartini Masa kini yang hanya tinggal melanjutkan semangat R.A Kartini untuk memajukan perempuan Indonesia melalui karya dan prestasi, mendidik generasi, menjadi ibu cerdas dan istri yang hebat. Untuk menjadi Kartini masa kini tidaklah cukup hanya dengan mengagumi sosok Kartini saja, melainkan butuh aksi nyata. Pertama Kartini Masa kini haruslah mampu berkarya, yaitu mampu memberikan kontribusi baik bagi dirinya maupun bagi lingkungannya, misalnya perempuan yang menjadi guru atau menjadi anggota legislatif, ia akan menggunakan kesempatan baik tersebut untuk berkarya, mencerdaskan anak bangsa dan memberikan solusi-solusi terbaik bagi permasalahan yang ada di sekitarnya. Kedua menjadi Kartini Masa Kini haruslah mandiri, dalam artian perempuan harus mampu berdiri di atas kaki sendiri, mampu berusaha dan berjuang tanpa menyusahkan orang lain. Bagi yang sudah menikah, istri tidak selamanya dapat bergantung pada suami, bila sewaktu-waktu ada hal yang tidak diinginkan terjadi seperti suami sakit, meninggal atau yang lebih buruk adalah bercerai. maka ia sudah siap untuk mengatasi hal tersebut. bagi yang masih lajang tidak selamanya anak dapat bergantung pada orangtua, karena semakin tua mereka semakin lemah untuk bekerja, maka siapa lagi kalau bukan kita yang memberi nafkah. Kemandirian adalah sikap antisipasi jika sewaktu-waktu orang-orang terdekatnya tidak mampu untuk menolong kesulitannya, contoh konkretnya wanita bisa memiliki profesi yang menunjang perekonomiannya seperti menjadi pengusaha atau pekerja kantor, dll. Dan bahkan ada dalam suatu kondisi yang sulit dan terpaksa wanita bisa menjadi benar-benar mandiri, yang sering kita temui di pelosok desa, realita tentang kemandirian perempuan-perempuan desa yang memilih menjadi TKW bertahun-tahun demi menghidupi keluarganya, mereka adalah kartini bagi keluarganya. Ketiga Kartini Masa Kini haruslah cerdas, di zaman digital ini seorang perempuan dituntut untuk menjadi cerdas, mampu menerima perkembangan zaman, dapat memilah dan memilih hal mana yang baik dan tidak untuk dirinya dan keluarganya karena seorang ibu atau calon ibu akan mendidik anak-anaknya kelak, al-Madrosatul ula yaitu yang pertama memberikan mereka wawasan dan pemahaman. Keempat Kartini masa kini haruslah mampu menginspirasi baik dari tutur maupun perilaku, minimal untuk orang-orang terdekatnya, seperti anak, saudara atau sahabatnya. Sehingga ia mampu membawa energi positif untuk orang-orang disekitarnya. (15/4/2019) (edit: 9/04/2020)